Siang itu jogja begitu panas dan macet. Saya mendapatkan tugas dari kantor untuk bertemu client, Sebenarnya hari itu saya kurang begitu semangat, jalanan macet, badan kurang fit karena semalem lembur desain web untuk proyek pribadi. saat berhenti di sebuah lampu merah, di depan saya ada bis yg menurunkan penumpang. Ternyata penumpang yang turun itu adalah sepasang suami istri yg sudah cukup tua, mngenakan pakaian yang amat sangat sederhana bahkan terkesan awut2an, bahkan si istri tidak memakai sendal. Pasangan itu turun dari bis dan berjalan pelan2 menuju trotoar sambil dibantu sang ‘pramugara bis’. Ketika itu saya baru sadar, bahwa sepasang suami istri tersebut diciptakan sedikit berbeda dgn kita. Mereka adalah tuna netra, ya keduanya tidak bisa melihat, baik sang istri maupun sang suami.
Setelah sampai di trotoar ‘pramugara bis’ tadi meninggalkan mereka berdua, sekarang suami-istri tersebut berjalan tertatih tanpa pemandu. sang suami berjalan didepan, hanya menggunakan tangan kanannya untuk meraba2 benda2 disekitarnya, sedangkan tangan kirinya menggandeng dgn erat tangan istrinya yg berjalan dibelakangnya. Saya hanya bisa menebak2 tujuan mereka, apakah mereka akan kesuatu tempat, belanja membeli kebutuhan sehari2 atau mengunjungi sanak saudara??? lalu mengapa mereka dibiarkan pergi sendirian dgn keadaan seperti itu?? apakah tidak punya sanak saudara yg peduli??? bahkan saya sempat berfikir pekerjaan mereka adalah pengemis, memanfaatkan keterbatasan fisik sebagai ‘komoditas’, berharap belas kasihan pada orang laen. lalu ada sedikit kejadian lucu yang membuat saya tersenyum kecil.
Tak sengaja si suami menabrak rambu2 lalu lintas yang memang di pasang terlalu rendah.
Suami : Waduuhhhh!!!!
Istri : ngopo’e Pak????
Suami : Mbuh iki nabrak opo!!????. (sambil menampar bagian atas rambu2 yg berbentuk persegi itu)
Istri : ati2 tho pak!!!!
Suami : lha wong yo ora kethok bu… (senyum kecut)
Jauh didepan terlihat trafic light memancarkan lampu hijaunya, semua kendaraan mulai berjalan merayap begitu juga dgn saya yang mendapat antrian di belakang. Karna saking padatnya kendaraan,
untuk kedua kalinya saya terhalang lampu merah ditempat yang sama tapi kali ini saya berhenti di posisi paling depan. Saya bersyukur terhalang lampu merah lagi, karna dgn begitu saya dapat menyaksikan moment yg sangat jarang ini.
Kembali saya perhatikan kedua orang itu. Tapi kali ini diantara mereka sudah terdapat seorang pemuda (dari tampilannya mungkin seorang mahasiwa) yang membantu mereka berjalan.Mungkin mahasiwa itu merasa iba melihat pasangan tadi, sehingga dia membantu keduanya yg sedang terjebak di trotoar yg di kiri kanannya banyak melintang bambu2 penyangga bendera dari sebuah iklan rokok. Setelah jalan yg akan dilalui pasangan itu dirasa cukup aman, si mahasiswa itu meninggalkan mereka. Tetapi sebelum pergi mahasiswa tadi memberikan beberapa lembar uang ribuan ke tangan bapak itu. bapak itu meraba2 lembaran ribuan tadi, (mungkin untuk memastikan apakah ini uang atau bukan) kemudian mengembalikan ke mahasiwa tadi sambil berkata “ngapunten Mas, kulo sanes wong ngemis, kulo nyambut dhamel teng warung mriko” { maaf Mas Saya bukan pengemis, saya kerja disebuah warung disana} sambil menunjuk ke sebuah arah disertai sebuah senyum. Walaupun samar2 tapi saya dapat mendengar setiap kalimat tersebut.
Saya agak terkejut, saya sudah salah menilai. Pikiran saya terlalu sempit, Terlalu cepat menyimpulkan bahwa mereka adalah pengemis cuman karna melihat pakaian mereka, atau karna si istri tidak memakai sendal.
Satu poin pelajaran penting yang saya dapat. “don’t judge the book from the cover” sebuah pepatah lama yang selama ini cuman lewat di telinga saja.
salut buat bapak dan ibu tadi, meski dengan keterbatasan fisik tetapi mereka tetap dapat berfikir positif. Tidak menggunakan kebutaannya sebagai alasan untuk meminta2.
Satu poin lagi pelajaran penting yang tak ternilai harganya.
Hal ini sangat berbeda sekali dengan Bapak2 yang berada di atas sana, yg duduk di ‘kursi empuk’ dengan segala fasilitasnya yang mewah.
Mereka ga malu untuk meminta sejumlah rupiah dengan iming2 akan memperlancar rencana si pemberi uang. Mungkin bukan hanya meminta, bahkan ada juga yang merampok.
Uang rakyat mereka rampok secara halus padahal rakyatlah yang membuat mereka bisa duduk di tempat nyaman seperti sekrang ini.
Coba bayangkan brp banyak uang suap yg diterima jaksa Urip (btw menurut info dari guru saya di SMA, jaksa yg satu ini adalah kakak kelas saya di SMA.. Ta***kkk &$%$*&* bikin malu sekolahan aja @$#^#&)
Coba kalo uang itu digunakan untuk meningkatkan taraf pendidikan disebuah pedalaman kalimantan??? berapa banyak anak bangsa yg terselamatkan pendidikannya??
Mungkin pasangan suami-istri tadi memang cacat secara fisik, namun mental dan hati mereka masih sehat. Berbeda dengan orang2 penting yang di atas sana, Mereka punya
fisik yang sehat (ya tentu saja, dengan sajian makanan yg penuh gizi tiap hari ga mungkin mereka menderita busung lapar) tapi mental mereka telah cacat, dengan pura2 buta, tidak melihat jika di negeri ini masih banyak orang yang hidup dalam kekurangan dan keterbatasan….
Hari itu sebuah pelajarang berharga saya dapatkan dari orang2 yang selama ini dipandang sebelah mata…..

Ulasan yang bagus kul…!, kadang kita perlu belajar dari mereka yang dianggap ‘kurang’ di mata manusia tapi mereka ‘lebih’ di hadapan Sang Pencipta.
Wah tumben om kw bar kesambet opo je heee
Katanya sblm qt diciptakan kan qt disuruh menulis takdir qt kelak waktu hidup didunia….kayak lagunya ahmad dani “jika surga dan neraka tak pernah ada”….trz ceritanya gmn ya????
Kalo menurutku korupsi dah mengakar di bumi pertiwi Inonesia ini….dah rusak semua, moralnya dah bejat semua….kl dipikir2 malah jd pusing….mo diberantas susah lha wong dah kena semua….solusinya cerita dari kehidupan ini dirubah aj dari awal heeeeee
Wow…muach deh
@ Wawan : setuju Wan.. Sebenarnya banyak pelajaran yang bisa kita petik dari kejadian2 kecil spt diatas..
@ vspidy : Aduhh tante ini…. kalo kehidupan dirubah dari awal trus kita punya kesempatan untuk menjadi ciptaan yang lain, tante pengen jadi apa?? kodok apa biawak??? hahaha
) :p
@ Firmawan : muachhh juga!!!
)
emang saya cowok apaan??hahahabegitu menyentuh, lihat diri kita, selalu tidak puas dengan nilai kuliah yg baik, selalu mencibir kursi empuk kendaraan kita yang sedikit sobek, tapi kita tak pernah menyadari BAHWA kita harusnya bersyukur bisa kuliah, bersyukur bisa punya kendaraan dgn kursi yang empuk..
sungguh ironis!
@vspidy…
weeew kena bgt dew d’aq.. nie aja nyolong waktu ngator cm tuk ngintips postingan dr kalian..
so ini termasuk korupsi
kecilwaktu ???@agung
apik banget gung. sering2 ya posting semacam ini.
@arnis
————
so ini termasuk korupsi kecil waktu ???
————
kalo menurut buku panduan KPK, korupsi adalah upaya merugikan negara bukan perusahaan. jadi untuk kita yang kerja di swasta nggak ada istilah korupsi. yang ada nggak saleh.
saleh : menempatkan sesuatu sesuai tempatnya.
jadi (menurut saya) nggak akan ada kasus korupsi diperusahaan swasta, begitu mbak.
@ uzan : wahh saya ngerasa tersindir nih..


@ niez : pak.. pak… pak boss-nya arniez!!! saya mau lapor pak,… arniez korupsi waktu..
@ hanafi : iya… semoga… saya selalu menantikan moment2 sederhana penuh makna seperti kejadian diatas..
bravo..dah kayak om suryo ni gaya bahasa nya
@ firdi : Asyemmm sialan… masak saya disamakan dgn roy suryo??? jelas ga terima lah… Khan kerenan saya… gantegan saya..
*ditabokin orang sekampung*